Merah
– Putih di Pangkal Pena
“Sebuah Kisah dari Ikatan untuk
Negeri”
Garis gemilang senja
negri ini, selalu tampak megah menghamburkan rona biru – jingga. Sebelum
menyapa maghrib, secangkir teh beraromakan melati, yang hangat dan memberikan
semangat mengalir melewati rongga tenggorokanku. Bersama para pejuang pena yang
terlahir dari seberkas pancaran sinar sang surya, dengan beralaskan geladak
kapal kita menatap lintang ing tawang
wayahing ratri milik negri ini. Menatap luas langit Indonesia yang disana
berkibar gagah sang pusaka “Merah – Putih”. Negri hasil karya seni Illahi ini
tetap cantik meski dilihat hanya dengan pancaran sinar patromaks. “Apa langkah kita untuk Indonesia, kawan?” satu
kata yang tak terucap, karna aku pun belum mampu memberikan satu langkah maju
untuk negeri kebanggaan ini.
Agustus, merah putih seolah
mendominan untuk warna di sudut hati. Ikatan Pelajar Muhammadiya juga berdiri
diatas bumi pertiwi, berdakwah untuk manusia pribumi negri ini, dan besar
bersama empat puluh lima ribu kali tiga puluh tiga milyar sejarah NKRI. “yuh ngadakna 17’an maning” seseorang nyeletuk kala sebuah obrolan
kecil mencengkerama disela hangatnya teh menemani malam kita. “iya bener, tapi acara lomba-lomba terlalu mainstream”
aku sedikit mencoba memberi peluang teman lain untuk mencari ide agar acara
peringatan kemerdekaan RI ke 69 berbeda dari yang lainnya. Ide cemerlang itu
berupa pengadaan upacara di malam kemerdekaan. Inilah kita remaja yang selalu
memunculkan ide hanya dengan menikmati tegukan teh berdamping tahu aci.
Sedikit dari kami layaknya BPUPKI
yang sedang mempersiapkan kemerdekaan RI. Malam itu Diman, Dede, Ciun, Tyo,
Amad dan aku sebut saja “Agung, 20th” telah kembali berkumpul memberi follow up
obrolan yang telah berlalu perihal acara peringatan kemerdekaan RI. Dari
situlah, nama Adie Indah Jaya terpilih untuk membawa kita pada acara peringatan
kemerdekaan RI.
“Lalu kita mau adakan
acara seperti apa?” tanya ketua panitia.
“Ya upacara malam
peringatan kemerdekaan” Diman yang menjawab.
“Masa Cuma Upacara?” Hadi
ikut berkomentar.
“Nah kita lanjut
acara pentas seni atau nonton bareng saja, gimana?” Giliranku
berpendapat.
“Sip! Lalu target
yang ikut upacara siapa? Tau sendiri jumlah anak IPM Wangandawa” Adi
alias Dede menambahkan.
“Kita ajak anak SD
Wangandawa 01, trus ajak juga ranting lain” saran Hadi.
“Nah,
aku ada ide gimana kalo dibubuhi blung sebagai tanda kemerdekaan” Ide bagus
dari Diman dengan nama lengkap Khulafaturrohman
“Wuh keren, terus pas
upacara, lapangan dihiasi obor-obor mengelilingi lapangan” Satu
ide muncul dari benakku.
Semua konsep sudah ada dalam
bayangan kita, langkah kemudian penyusunan acara dan anggaran dana serta
persiapan perlengkapan untuk kebutuhan kita. Sebuah konsep upacara sakral malam
peringatan kemerdekaan Indonesia ke-69 dengan
bercahayakan lampu obor dan sentuhan etnik tradisional dengan adanya “Blung”
mainan tradisional mirip sebuah meriam tapi terbuat dari bambu, serta berlanjut
dengan penampilan karya seni, tentunya akan memberi daya tarik kuat untuk warga
mengaguminya. Untuk memberi kesempatan kepada warga melihat inilah kami “Ikatan
Pelajar Muhammadiyah” gerakan remaja dengan krativitas dan semangat berjuang
tinggi.
Dan sebelum kedua kelopak mata
bertemu, di kamar in terus terfikir mencari ide cemerlang untuk event IPM kali ini. Rasanya aku
merindukan ikatan ini terlalu dalam, ikatan yang pernah disana aku menjadi
kapten, memimpin remaja besar desa ini, memimpin diri untuk belajar dan mengembangkan
segala ajar. Untuk satu hal yang kurindukan, aku ingin memberikan satu karya
dengan beribu usaha. Konsep “Romantic Independence” terbayang dalam otak ini,
mencoba menghayati makna kemerdekaan yang di karuniakan Allah untuk negeri ini.
Dan karya Khairil Anwar ingin ku luapkan dalam aksi seni kemerdekaan ala
Pelajar Muhammadiyah Wangandawa. Dan kemudian sentakan rasa kantuk menuntut
tubuh ini untuk memberi kesempatan segala organ sejenak relaks. Dan aku matikan
lampu di kamar ini, ku ingin di peluk oleh cahaya dari mentari dalam pena.
---Nuun---
Indonesia masih subuh, baru melek
dan melihat riwayat negeri ini, bahkan ada yang tetap tertidur seolah tak
peduli ada apa dengan Indonesia kini?. Ayo bergegas kawan, Indonesia butuh
pemuda yang bisa bangun lebih pagi untuk mempersiapkan dan merapihkan yang tak
lagi rapi. Menjadi pembela tanah air “Hisbul Wathan” adalah kewajiban dan
sebagian dari iman, menuntun setidaknya satu langkah untuk sertifikat “Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghoffur”. Bertongkat
pena kita menjadi manusia terpelajar kepunyaan Muhammadiyah, organisasi yang
juga pernah hidup dan berjuang mensejahterakan ummat kala penjajahan membodohi
negri ini. Kami mencoba terus menjadi penerus, pelopor dan pelangsung baik
untuk gerakan, agama, nusa dan bangsa.
“Karawaaanggg
Bekasii, karya Khairil Anwar” dengan sedikit nada kacau bangun tidur aku
meneriakkan bak seniman yang berpuisi. Dan kemudian aku menyadarinya, inilah
bersyair yang diharamkan dalam Al-Qur’an, bukan karna syairnya tapi penempatan.
Awal mata membuka yang seharusnya menjadi hal untuk bersyukur dengan do’a
terkalahkan oleh syair. “Astaghfiullahal
adzim” lantas aku lanjut dengan doa sesudah tidur. Bagiku puisi adalah
keindahan kata-kata yang mampu menggugah hati, selama bernilai positif dan tak
melalaikan, keindahan itu tetap dimubahkan, bahkan lewat media seni dakwah itu
akan lebih menarik dan mudah di terima. Ku akhiri semua dan bergegas mensucikan
diri untuk menghadap Illahi di awal hari.
Ketika mentari sepenggalan naik dan
mulai menantang di ufuk timur, lelaki kulit gelap itu menyeru namaku dari luar
rumah. Yah itu dia Hadi dengan nama beken “Ciun” dan berdiri bersamanya Amad
sang kapten PR IPM Wangandawa, yang sudah aku duga maksud kedatangannya. Yaps,
mengajak mencari bambu guna membuat obor penghias lapangan upacara. Sejenak
Hadi menyuruhku untuk mengirim pesan singkat ke Adi agar ia bisa ikut pula
dalam pembuatan obor. Ku raba saku celana, mencari benda yang memperudah
komunikasi. Selang 600 detik, Adi atau panggil saja Dede muncul dari arah
selatan di sebelah barat rumahku.
Lantas
langkah kami mulai meninggalkan jejak hingga sampai di areal persawahan dekat
sawah milik ayahanda dari Hadi, yang terlihat disana bambu-bambu sisa
penebangan yang ku kira tak terpakai. Hanya sedikit merapikan cabang-cabang
yang pating klalar kalo dalam Bahasa
Tegal. kami tak menghitung berapa banyak cabang yang terpotong karna kami
menikmati pemotongan dengan candaan dan obrolan yang tak jauh seputar masa,
ilmu, banyolan atau sekedar tau kenapa ikan bisa berenang.
“Tar malam latian upacara” seru Amad
“iya lah..... kurang 4 hari lho” sang
ketua panitia mengingatkan
4
hari ke depan untuk mempersiapkan acara yang belum pernah aku lihat dalam
sejarah aku hidup di desa Wangandawa ini. Sebenarnya keberadaan IPM di desa ini
telah cukup dikenal bahkan di akui keberadaanya, tapi mengapa mereka cenderung
hanya ingin menjadi penonton setiap aksi yang kita galakkan? Inilah pertanyaan
besar tentang kesadaran diri.
Seandainya
mereka bisa ikut merasakan keluh dibalik keindahan yang disaksikan banyak mata,
bukankah itu lebih bangga. Terkadang meski
dengan anggaran dana seadanya, kami selalu bisa membangkitkan acara-acara yang
tak biasa. Segalanya berawal dari semangat, dan energi positif dalam diri akan
bangkit mendoakan segala usaha hingga Allah tau ikhtiar hambanya lantas di
permudah. Seperti kali ini, untung kita punya kakak Pemuda Muhammadiyah yang
sedang berbisnis persewaan sound system sehingga
di permurah harga sewanya. Dan kakak hadi yang punya prlengkapan pernikahan
bisa kami pinjam panggungnya untuk semalam. Untuk proyektor Diman salah satu
guru di SD Muhammadiyah dan itu sangat mempermudah.
“Telah
banyak yang aku dapatkan tentang arti hidup dan perjuangan, fisabilillah di
tegakkan lewat hati kata dan perbuatan” demikian
nada ini selalu mengalir, selalu kembali mengingatkanku pada ikatan ini. Dari
sana pula diri sadar akan perjuangan pahlawan untuk memberi kesempatan Merah –
Putih berkibar gagah menghiasi bumi pertiwi. Hanya berharap : semoga Allah
meridhoi niat hati yang tulus ini. Percayalah pangkal pena ini pun mampu
mengibarkan bendera bangsa dan menuliskan sejarah perjuangan pelajar muslim
untuk negara yang di rahmati Allah SWT.
---Wal
Qolam---
Seteguk
kopi hangat, menenangkan hati menghilangkan segala risau. Meski hari-hari
persiapan telah berlalu dengan usaha keras, malam ini adalah persiapan terakhir
“Jumat, 15 Agustus 2014”. Gladi bersih upacara telah rapi dan terlihat epic, puisiku
juga akan menggemparkan esok hari, sedikit masalah dengan theater yang akan
kami tampilkan perihal rekaman. Pernah kita latihan untuk teater kemerdekaan
ini, namun waktu yang berjalan serasa tak cukup menghafalkan dialog bagi
sebagian pemeran. Arah jarum jam terus berdetak terlihat disana jarum pendek
bersinggah di angka 11 dengan jarum panjang sedikit menjorok keluar dari angka
2. Rekaman harus segera di akhiri, karna justru proses editing akan memakan
waktu semalaman. Dan sebelum jarum jam sampai angka 12 semua suara telah masuk
meski belum sampai tahap penggabungan dan lain-lain.
MDA ini terlalu sumpek, sepertinya
angin diluar sana akan memberikan kesegaran untuk kita begadang editing vocal
dan audio. Nasi goreng depan sebuah toko besi di daerah kemantran merupakan
satu-satunya tempat makan yang masih buka saat itu, dan disanalah kami akan
mulai bekerja. Khulafaturraohman kala itu yang paling paham aplikasi, aku,
Hadi, Amad dan Tyo hanya sebagai penyemangat dan pemberi inspirasi, eh si Tyo
mah cuma mendukung lewat mimpinya dia asik tidur meski nyamuk terus berisik
bernyanyi diatas telinga. Editing, gurauan, nyanyian, bahkan suara bising
truk-truk besar menada menjadi kesatuan yang kelak akan kami kenang. Kemudian
berlahan warna bumi membiru dan lantunan ayat suci mulai berkumandang proses
edit juga sampai 90%, hingga panggilan sholat subuh berkumadang semua telah
selesai. Kemudian beriring gema kebesaran Illahi kami kembali ke rumah, ku
basuh diri dengan air wudlu berujung sholat kemudian merebahkan diri untuk
sejenak memejamkan mata yang tak sempat menutup semalam.
Saat mata membuka nanti, persiapan alat-alat
entah penambahan minyak pada obor, pemasangan obor, panggung atau check sound blung
dan beberapa persiapan lain juga masih harus di uruskan. Tapi diri ini selalu
sadar akan kekuatan tubuh, meski sinar mentari telah menghamburkan kabut,
bersama embun yang menetes aku ingin sejenak melampiaskan kantuk barang
sejenak. Ma, maafkan aku tidur di pagi hari, bukan mencari kebodohan namun
hasil dari mencoba untuk mencerdaskan.
---Wamaa
Yasthurun---
“Hari Penentuan Usaha” begitu aku
sebut hari ini, kala sepasang bola mata membuka bersama suara motor supra-x
kepunyaan emakku, yang baru saja kembali membawa seambreg belanjaan untuk di
jual hari itu. Wajahnya yang semakin tua membuatku semakin takut kehilangan
beliau, semangat juangku jikalau harus tanpa beliau lantas akan muncul dari
orang yang mana lagi selain abah juga. “ma,
bah. Malam ini anakmu akan membanggakanmu dan negri ini” hati berbisik dan
beranjak dari tempat tidur.
Pukul 12:31 WIB : persiapan obor
selesai, penataan panggung mulai sejak setelah ashar bersamaan dengan penataan
obor, sound system dan juga pemasangan LCD Proyektor. Satu hal yang sudah pasti
tidak akan cukup hingga maghrib kelar. Hingga isyak, semua persiapan dapat
dikatakan menakjubkan. Lihat lapangan MDA Tarbiyatul Atfal, “It been the
romantic site” saat mata melihat dari lantai atas MDA ini. Remang obor
mengelilingi lapangan, panggung dengan background hasil pancaran sinar LCD
Proyektor bernuansa Indonesia, dengan hiasan lampu yang berkelip-kelip memberi
kesan indah bagi mata yang menatap.
Riuh warga mulai mendesak membuat
hati bangga dengan sedikit gugup dari hati kami. Namun seketika tenang
mengikuti jalannya upacara. Bangga saat wajah-wajah desa menatap gagah Merah –
Putih yang berlahan naik mencapai ujung tiang. Hati ini selalu merasakan angin
sejuk saat Indonesia Raya menggema, bersyukur kepada Allah aku dapat berdiri di
negeri dengan pesona ragam keindahan alam, budaya dan bahasa. Dentuman “Blung”
penanda kemerdekaan saat itu pula bergema memberikan semangat untuk Indonesia. Tanpa
ingin mengeluh kami ingin berjuang untuk negeri ini, seperti makna puisi yang
ku gemparkan bersama Azizah malam itu pula. “Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang
berserakan” kita, kitalah yang
menentukan arti perjuangan pahlawan. Dan kembali teriakan “MERDEKA!” menderu
malam itu, seusai drama pencetusan kemerdekaan dimainkan denga sedikit acakan
namun tetap membawakan arti. Lantas “Indonesia Pusaka” dari suara Linda ikut
melantunkan syahdu malam itu. Kemudian sebuah film darah garuda kembali
mengingatkan kami akan masa lampau sebelum kami dapat tersenyum bangga seperti
ini. Begitulah kami memberikan negeri ini sebuah malam Kemerdekaan Indonesia
ke-69 “16 Agustus 2014”.
Indonesia,
selalu negeri ini memancarkan niali apik dari sudutnya. Negri yang belum bisa
bersyukur akan karunia besar ini. Negeri mubadzir, yang cantik tapi dirusak
preman-preman berseragam yang menjajah. Siapalah kami? Pelajar Muhammadiyah
yang ingin membenahi tapi masih anak kecil. Semangat kawan! Negeri ini
membutuhkan maha karya kita. Ya Allah, bantu kami menjaga karuniamu ini, ridhoi
kami dalam setiap nafas hangat dari udara panas negri ini. Bimbing setiap
langkah ini untuk berkeringat menuntun Indonesia menjadi “Baldatun Toyyibatun
wa Robbun Ghoffur”. Amin.
---Salam IPM---
Agung Subekti
PR IPM Wangandawa



