"Sekuat Jangkar, Seerat swivel"

Minggu, 16 Agustus 2015

Merah – Putih di Pangkal Pena

Merah – Putih di Pangkal Pena
“Sebuah Kisah dari Ikatan untuk Negeri”

Garis gemilang senja negri ini, selalu tampak megah menghamburkan rona biru – jingga. Sebelum menyapa maghrib, secangkir teh beraromakan melati, yang hangat dan memberikan semangat mengalir melewati rongga tenggorokanku. Bersama para pejuang pena yang terlahir dari seberkas pancaran sinar sang surya, dengan beralaskan geladak kapal kita menatap lintang ing tawang wayahing ratri milik negri ini. Menatap luas langit Indonesia yang disana berkibar gagah sang pusaka “Merah – Putih”. Negri hasil karya seni Illahi ini tetap cantik meski dilihat hanya dengan pancaran sinar patromaks. “Apa langkah kita untuk Indonesia, kawan?” satu kata yang tak terucap, karna aku pun belum mampu memberikan satu langkah maju untuk negeri kebanggaan ini.
            Agustus, merah putih seolah mendominan untuk warna di sudut hati. Ikatan Pelajar Muhammadiya juga berdiri diatas bumi pertiwi, berdakwah untuk manusia pribumi negri ini, dan besar bersama empat puluh lima ribu kali tiga puluh tiga milyar  sejarah NKRI. “yuh ngadakna 17’an maning” seseorang nyeletuk kala sebuah obrolan kecil mencengkerama disela hangatnya teh menemani malam kita. “iya bener, tapi acara lomba-lomba terlalu mainstream” aku sedikit mencoba memberi peluang teman lain untuk mencari ide agar acara peringatan kemerdekaan RI ke 69 berbeda dari yang lainnya. Ide cemerlang itu berupa pengadaan upacara di malam kemerdekaan. Inilah kita remaja yang selalu memunculkan ide hanya dengan menikmati tegukan teh berdamping tahu aci.
            Sedikit dari kami layaknya BPUPKI yang sedang mempersiapkan kemerdekaan RI. Malam itu Diman, Dede, Ciun, Tyo, Amad dan aku sebut saja “Agung, 20th” telah kembali berkumpul memberi follow up obrolan yang telah berlalu perihal acara peringatan kemerdekaan RI. Dari situlah, nama Adie Indah Jaya terpilih untuk membawa kita pada acara peringatan kemerdekaan RI.
“Lalu kita mau adakan acara seperti apa?” tanya ketua panitia.
“Ya upacara malam peringatan kemerdekaan” Diman yang menjawab.
“Masa Cuma Upacara?” Hadi ikut berkomentar.
“Nah kita lanjut acara pentas seni atau nonton bareng saja, gimana?” Giliranku berpendapat.
“Sip! Lalu target yang ikut upacara siapa? Tau sendiri jumlah anak IPM Wangandawa” Adi alias Dede menambahkan.
“Kita ajak anak SD Wangandawa 01, trus ajak juga ranting lain” saran Hadi.
            “Nah, aku ada ide gimana kalo dibubuhi blung sebagai tanda kemerdekaan” Ide bagus dari Diman dengan nama lengkap Khulafaturrohman
“Wuh keren, terus pas upacara, lapangan dihiasi obor-obor mengelilingi lapangan” Satu ide muncul dari benakku.
            Semua konsep sudah ada dalam bayangan kita, langkah kemudian penyusunan acara dan anggaran dana serta persiapan perlengkapan untuk kebutuhan kita. Sebuah konsep upacara sakral malam peringatan kemerdekaan Indonesia ke-69 dengan bercahayakan lampu obor dan sentuhan etnik tradisional dengan adanya “Blung” mainan tradisional mirip sebuah meriam tapi terbuat dari bambu, serta berlanjut dengan penampilan karya seni, tentunya akan memberi daya tarik kuat untuk warga mengaguminya. Untuk memberi kesempatan kepada warga melihat inilah kami “Ikatan Pelajar Muhammadiyah” gerakan remaja dengan krativitas dan semangat berjuang tinggi.
            Dan sebelum kedua kelopak mata bertemu, di kamar in terus terfikir mencari ide cemerlang untuk event IPM kali ini. Rasanya aku merindukan ikatan ini terlalu dalam, ikatan yang pernah disana aku menjadi kapten, memimpin remaja besar desa ini, memimpin diri untuk belajar dan mengembangkan segala ajar. Untuk satu hal yang kurindukan, aku ingin memberikan satu karya dengan beribu usaha. Konsep “Romantic Independence” terbayang dalam otak ini, mencoba menghayati makna kemerdekaan yang di karuniakan Allah untuk negeri ini. Dan karya Khairil Anwar ingin ku luapkan dalam aksi seni kemerdekaan ala Pelajar Muhammadiyah Wangandawa. Dan kemudian sentakan rasa kantuk menuntut tubuh ini untuk memberi kesempatan segala organ sejenak relaks. Dan aku matikan lampu di kamar ini, ku ingin di peluk oleh cahaya dari mentari dalam pena.
---Nuun---
            Indonesia masih subuh, baru melek dan melihat riwayat negeri ini, bahkan ada yang tetap tertidur seolah tak peduli ada apa dengan Indonesia kini?. Ayo bergegas kawan, Indonesia butuh pemuda yang bisa bangun lebih pagi untuk mempersiapkan dan merapihkan yang tak lagi rapi. Menjadi pembela tanah air “Hisbul Wathan” adalah kewajiban dan sebagian dari iman, menuntun setidaknya satu langkah untuk sertifikat “Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghoffur”. Bertongkat pena kita menjadi manusia terpelajar kepunyaan Muhammadiyah, organisasi yang juga pernah hidup dan berjuang mensejahterakan ummat kala penjajahan membodohi negri ini. Kami mencoba terus menjadi penerus, pelopor dan pelangsung baik untuk gerakan, agama, nusa dan bangsa.
            “Karawaaanggg Bekasii, karya Khairil Anwar” dengan sedikit nada kacau bangun tidur aku meneriakkan bak seniman yang berpuisi. Dan kemudian aku menyadarinya, inilah bersyair yang diharamkan dalam Al-Qur’an, bukan karna syairnya tapi penempatan. Awal mata membuka yang seharusnya menjadi hal untuk bersyukur dengan do’a terkalahkan oleh syair. “Astaghfiullahal adzim” lantas aku lanjut dengan doa sesudah tidur. Bagiku puisi adalah keindahan kata-kata yang mampu menggugah hati, selama bernilai positif dan tak melalaikan, keindahan itu tetap dimubahkan, bahkan lewat media seni dakwah itu akan lebih menarik dan mudah di terima. Ku akhiri semua dan bergegas mensucikan diri untuk menghadap Illahi di awal hari.
            Ketika mentari sepenggalan naik dan mulai menantang di ufuk timur, lelaki kulit gelap itu menyeru namaku dari luar rumah. Yah itu dia Hadi dengan nama beken “Ciun” dan berdiri bersamanya Amad sang kapten PR IPM Wangandawa, yang sudah aku duga maksud kedatangannya. Yaps, mengajak mencari bambu guna membuat obor penghias lapangan upacara. Sejenak Hadi menyuruhku untuk mengirim pesan singkat ke Adi agar ia bisa ikut pula dalam pembuatan obor. Ku raba saku celana, mencari benda yang memperudah komunikasi. Selang 600 detik, Adi atau panggil saja Dede muncul dari arah selatan di sebelah barat rumahku.
            Lantas langkah kami mulai meninggalkan jejak hingga sampai di areal persawahan dekat sawah milik ayahanda dari Hadi, yang terlihat disana bambu-bambu sisa penebangan yang ku kira tak terpakai. Hanya sedikit merapikan cabang-cabang yang pating klalar kalo dalam Bahasa Tegal. kami tak menghitung berapa banyak cabang yang terpotong karna kami menikmati pemotongan dengan candaan dan obrolan yang tak jauh seputar masa, ilmu, banyolan atau sekedar tau kenapa ikan bisa berenang.
Tar malam latian upacara” seru Amad
iya lah..... kurang 4 hari lho” sang ketua panitia mengingatkan
4 hari ke depan untuk mempersiapkan acara yang belum pernah aku lihat dalam sejarah aku hidup di desa Wangandawa ini. Sebenarnya keberadaan IPM di desa ini telah cukup dikenal bahkan di akui keberadaanya, tapi mengapa mereka cenderung hanya ingin menjadi penonton setiap aksi yang kita galakkan? Inilah pertanyaan besar tentang kesadaran diri.
Seandainya mereka bisa ikut merasakan keluh dibalik keindahan yang disaksikan banyak mata, bukankah itu lebih bangga. Terkadang  meski dengan anggaran dana seadanya, kami selalu bisa membangkitkan acara-acara yang tak biasa. Segalanya berawal dari semangat, dan energi positif dalam diri akan bangkit mendoakan segala usaha hingga Allah tau ikhtiar hambanya lantas di permudah. Seperti kali ini, untung kita punya kakak Pemuda Muhammadiyah yang sedang berbisnis persewaan sound system sehingga di permurah harga sewanya. Dan kakak hadi yang punya prlengkapan pernikahan bisa kami pinjam panggungnya untuk semalam. Untuk proyektor Diman salah satu guru di SD Muhammadiyah dan itu sangat mempermudah.
            “Telah banyak yang aku dapatkan tentang arti hidup dan perjuangan, fisabilillah di tegakkan lewat hati kata dan perbuatan”         demikian nada ini selalu mengalir, selalu kembali mengingatkanku pada ikatan ini. Dari sana pula diri sadar akan perjuangan pahlawan untuk memberi kesempatan Merah – Putih berkibar gagah menghiasi bumi pertiwi. Hanya berharap : semoga Allah meridhoi niat hati yang tulus ini. Percayalah pangkal pena ini pun mampu mengibarkan bendera bangsa dan menuliskan sejarah perjuangan pelajar muslim untuk negara yang di rahmati Allah SWT.
---Wal Qolam---

            Seteguk kopi hangat, menenangkan hati menghilangkan segala risau. Meski hari-hari persiapan telah berlalu dengan usaha keras, malam ini adalah persiapan terakhir “Jumat, 15 Agustus 2014”. Gladi bersih upacara telah rapi dan terlihat epic, puisiku juga akan menggemparkan esok hari, sedikit masalah dengan theater yang akan kami tampilkan perihal rekaman. Pernah kita latihan untuk teater kemerdekaan ini, namun waktu yang berjalan serasa tak cukup menghafalkan dialog bagi sebagian pemeran. Arah jarum jam terus berdetak terlihat disana jarum pendek bersinggah di angka 11 dengan jarum panjang sedikit menjorok keluar dari angka 2. Rekaman harus segera di akhiri, karna justru proses editing akan memakan waktu semalaman. Dan sebelum jarum jam sampai angka 12 semua suara telah masuk meski belum sampai tahap penggabungan dan lain-lain.
            MDA ini terlalu sumpek, sepertinya angin diluar sana akan memberikan kesegaran untuk kita begadang editing vocal dan audio. Nasi goreng depan sebuah toko besi di daerah kemantran merupakan satu-satunya tempat makan yang masih buka saat itu, dan disanalah kami akan mulai bekerja. Khulafaturraohman kala itu yang paling paham aplikasi, aku, Hadi, Amad dan Tyo hanya sebagai penyemangat dan pemberi inspirasi, eh si Tyo mah cuma mendukung lewat mimpinya dia asik tidur meski nyamuk terus berisik bernyanyi diatas telinga. Editing, gurauan, nyanyian, bahkan suara bising truk-truk besar menada menjadi kesatuan yang kelak akan kami kenang. Kemudian berlahan warna bumi membiru dan lantunan ayat suci mulai berkumandang proses edit juga sampai 90%, hingga panggilan sholat subuh berkumadang semua telah selesai. Kemudian beriring gema kebesaran Illahi kami kembali ke rumah, ku basuh diri dengan air wudlu berujung sholat kemudian merebahkan diri untuk sejenak memejamkan mata yang tak sempat menutup semalam.
            Saat mata membuka nanti, persiapan alat-alat entah penambahan minyak pada obor, pemasangan obor, panggung atau check sound blung dan beberapa persiapan lain juga masih harus di uruskan. Tapi diri ini selalu sadar akan kekuatan tubuh, meski sinar mentari telah menghamburkan kabut, bersama embun yang menetes aku ingin sejenak melampiaskan kantuk barang sejenak. Ma, maafkan aku tidur di pagi hari, bukan mencari kebodohan namun hasil dari mencoba untuk mencerdaskan.
---Wamaa Yasthurun---

            “Hari Penentuan Usaha” begitu aku sebut hari ini, kala sepasang bola mata membuka bersama suara motor supra-x kepunyaan emakku, yang baru saja kembali membawa seambreg belanjaan untuk di jual hari itu. Wajahnya yang semakin tua membuatku semakin takut kehilangan beliau, semangat juangku jikalau harus tanpa beliau lantas akan muncul dari orang yang mana lagi selain abah juga. “ma, bah. Malam ini anakmu akan membanggakanmu dan negri ini” hati berbisik dan beranjak dari tempat tidur.
            Pukul 12:31 WIB : persiapan obor selesai, penataan panggung mulai sejak setelah ashar bersamaan dengan penataan obor, sound system dan juga pemasangan LCD Proyektor. Satu hal yang sudah pasti tidak akan cukup hingga maghrib kelar. Hingga isyak, semua persiapan dapat dikatakan menakjubkan. Lihat lapangan MDA Tarbiyatul Atfal, “It been the romantic site” saat mata melihat dari lantai atas MDA ini. Remang obor mengelilingi lapangan, panggung dengan background hasil pancaran sinar LCD Proyektor bernuansa Indonesia, dengan hiasan lampu yang berkelip-kelip memberi kesan indah bagi mata yang menatap.
            Riuh warga mulai mendesak membuat hati bangga dengan sedikit gugup dari hati kami. Namun seketika tenang mengikuti jalannya upacara. Bangga saat wajah-wajah desa menatap gagah Merah – Putih yang berlahan naik mencapai ujung tiang. Hati ini selalu merasakan angin sejuk saat Indonesia Raya menggema, bersyukur kepada Allah aku dapat berdiri di negeri dengan pesona ragam keindahan alam, budaya dan bahasa. Dentuman “Blung” penanda kemerdekaan saat itu pula bergema memberikan semangat untuk Indonesia. Tanpa ingin mengeluh kami ingin berjuang untuk negeri ini, seperti makna puisi yang ku gemparkan bersama Azizah malam itu pula. “Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan” kita, kitalah yang menentukan arti perjuangan pahlawan. Dan kembali teriakan “MERDEKA!” menderu malam itu, seusai drama pencetusan kemerdekaan dimainkan denga sedikit acakan namun tetap membawakan arti. Lantas “Indonesia Pusaka” dari suara Linda ikut melantunkan syahdu malam itu. Kemudian sebuah film darah garuda kembali mengingatkan kami akan masa lampau sebelum kami dapat tersenyum bangga seperti ini. Begitulah kami memberikan negeri ini sebuah malam Kemerdekaan Indonesia ke-69 “16 Agustus 2014”.
            Indonesia, selalu negeri ini memancarkan niali apik dari sudutnya. Negri yang belum bisa bersyukur akan karunia besar ini. Negeri mubadzir, yang cantik tapi dirusak preman-preman berseragam yang menjajah. Siapalah kami? Pelajar Muhammadiyah yang ingin membenahi tapi masih anak kecil. Semangat kawan! Negeri ini membutuhkan maha karya kita. Ya Allah, bantu kami menjaga karuniamu ini, ridhoi kami dalam setiap nafas hangat dari udara panas negri ini. Bimbing setiap langkah ini untuk berkeringat menuntun Indonesia menjadi “Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghoffur”. Amin.
---Salam IPM---

Agung Subekti

PR IPM Wangandawa

Jumat, 12 Juni 2015

Hilang

Jika hari ini aku tersenyum melihatmu, mungkin itu dusta semata.
Hanya duduk disini dalam waktu yang lama dengan keindahan wajah dari sampingmu itu cukup menyakitkan.
Ketika benar aku hendak beralih lantas kau duduk lebih dekat, bagaimana bisa aku beranjak??
Mungkin benar beranjak mencoba beralih lebih dekat, dan sekedip mata kau ternyata beralih pergi.
Lembut sekali kau terbang, tapi menyakitkan.

Jika kau tau "Sebelum mulut mereka berseru, sebelum kau memutuskan hubungan itu, sebelum kita bertemu dalam satu Metode, sebelum kau menyangka, sebelum hari ini ada, bahkan sebelum kau pernah menyebut namaku." hati ini telah luluh mengikutimu.

Ada kala itu aku meninggalkan gadis yang tak cantik namun menarik, hanya karena kau yang ternyata semenyakitkan ini aku mengharapmu.

Bahagia saat kau menyambut baik kedatanganku, scetch wajah yang kau terima dengan senyum, bintang kecil yang menurutmu akan kau jaga, obrolan ringan diatas sepeda, senym manjamu itu menaruh harapan besar dlam hati.

Lantas berlahan sinarmu surut, seperti senja yang mendung, tak indah sama sekali.kau berlalu dengan tak menyapaku bersama jas putih itu.

Siapa aku? aku siapa? kau siapa? dan dia itu yang kau pilih mungkin karena berjas putih dan terlihat keren.

tak akan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan keterlanjuran sayang ini, aku hanya akan tetap berdiam. seandainya sayang ini hilangpun itulah cara Tuhan menyadarkanku, dan ku akan menunggu perempuan yang akan menghampiriku di tempat ini, duduk bersamaku menatap mentari senja yang sederhana tapi mengena. :)

Senin, 13 April 2015

Pak Presiden, Ayok Ngopi.

                Selamat pagi pak presiden! Sudahkah anda ngopi, hari ini??”
                Aku dengar anda sedang malu saat ini, saat seluruh dunia menertawakanmu karna sifatmu yang sedikit konyol. Ah jika bapak sendiri malu, lantas kita sebagai rakyat harus menutupi wajah pakai apa?? Sesulit apa membaca rancangan perpres sampai anda tak sempat membacanya? Atau anda sedikit lelah, benar! jika anda kurang ngopi pak, mata anda lelah fikiran kacau dan ayolah ngopi dulu biar gak salah paham.
            Lantas anda masih sehat kan pak? Masih kuat kan memimpin kami, dengan sejuta masalah?? Siapa yang tak tau susahnya memimpin negri, tapi anda telah mencalonkan diri merupakan bentuk percaya diri anda untuk bisa memimpin kami. Kami tak seberapa kenal anda dulu, tapi akibat pencitraan anda kami percaya anda mampu. Suatu negri akan dikatakan sejahtera karna rakyatnya sejahtera, bukan berarti kaya! Tapi bahagia dan bangga punya presiden yang dapat mengayominya. Mungkin anda terlalu memandang sederhana hidup ini dan masalah negri ini, sehingga anda terlalu cupu menghadapi kejamnya politik dan kacaunya negri ini.
            Ayo bapak, kita ngopi bareng! Kita ngobrol dan bicarakan semuanya. Iya ngopi bareng kita (Read : Rakyat) sekedar tau apa yang kami perbincangkan setiap kami ngopi, tentang negri ini. Jangan terlalu sering minum Bir bersama partai politik itu pak, anda akan mabuk dan dibuat bingung (galau) oleh mereka. Berapa sih harga kopi? Biar kami yang traktir. Tegas pak! Anda milik rakyat, bukan milik partai! Karna kami memilih anda bukan partai anda, seandainya anda di pihak lain, mungkin kami akan tetap memilih anda karna kesederhanaan yang kau citrakan.
            Sudah ada 6 presiden pak di negri ini, semua memiliki warna yang berbeda. Jika anda tidak bisa memberi warna lain, setidaknya jangan beri kami warna abu-abu atu hitam. 6 presiden terdahulu apakah tidak cukup diambil pelajaran?? Beri kami kebijakan-kebijakan yang setidaknya sedikit meredamkan masalah besar negri ini, bukan menambah ruwet negri ini pak, bukan kebijakan yang kontroversi.
            Secangkir kopi di pagi hari, aromanya menggugah semangat meredamkan ambisi. Setiap seruput yang kau tarik akan menenangkan pikiran, dan mulailah dengan pemikiran yang jernih. Karna dengan ngopi, berarti anda belajar santai dan tak terburu-buru, santai bukan berarti tak memikirkan apapun, justru dalam santai sesuatu yang rumit akan terlihat alur keluarnya. Kopi yang membaur dengan air dan gula akan terasa nikmat dan bermanfaat, anggaplah kami air, anda kopi dan gula adalah negri ini anda akan lebih baik jika membaur dengan kami dan negri ini, atau anda ingin bersama ampas kopi yang tak bermanfaat dan akan terbuang?

Jumat, 27 Februari 2015

Bersedihlah! Menangislah!

Bismillahirrohmanirrohim....

Bersedihlah! Menangislah! itu wajar dan itu standar!

Masalah selalu hadir menyedihkan. Kehilangan sesuatu yang amat berarti dalam hidup, kehilangan harapan atau kehilangan kekasih hati sekalipun. Lantas siapa yang tak sedih menerima semua itu???

masih bisakah tertawa merasakan itu??

TEGAR itu bukan berarti tidak merasakan sedih dalam hati, ia hanya mampu berfikir positif dalam kondisi sulit.

"Sedih" itu bukan kata yang "Negative" tapi ia hanya bisa berefek negative tanpa kendali yang positive. Tak ada kesalahan sedikitpun orang yang bersedih hati, bukankah manusia diciptakn diliputi dengan rasa Sedih, Takut dan Khawatir??

YANG SALAH itu.....
Masalah datang ~> Sedih ~> Berfikir Negative ~> Mogok Makan ~> Sakit ~ Mat...... 
(its so bad)
Disitu kadang saya ikut sedih :(.
yang demikian hanya akan menambah masalah baru dalam kehidupanmu, lantas bagaimanakah kita membuat Sedih menjadi Positive Job??

INI.....
Masalah datang ~> Sedih (itu wajar ~> Berfikir Positive ~>Ambil Hikmah ~> Menemukan solusi. (Bener bingoo ....) 
INTINYA.... bersedihlah! saat dapat masalah, karna itu wajar, namun bersama kesedihan itu renungkanlah sebuah sebab, dan berfikirlah positive kemudian disana anda akan menemukan sebuah solusi.

dan Menangislah! dan bersama air mata yang jatuh, jatuhkan pula pukulan itu dan rasa sakit itu. kemudian dari dada yang sesak, tariklah nafas panjang yang menenangkan lantas keluarkan berlahan dan berkatalah "Wahai masalah besar, aku punya Tuhan yang Maha Besar". cari solusi terbaik dari sekian ribu yang baik yang besarang di otak itu.

Lebih baik berkata "Boleh menangis asal......." 
Daripada berkata "Jangan menangis nanti......."
Berikan bahumu saat mereka sedih, sementara jangan larang ia, diamlah biarkan mereka berfikir dan berkata lantas berkan solusimu :)
 


Senin, 02 Februari 2015

Nikmat Tuhanmu Yang Mana Lagi?? [yang kau dustakan]

Ada ribuan ayat yang terfirmankan dari Allah untuk kita, termasuk sindiran Allah yang diulang sampai 32 kali. "Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah, yang kau dustakan?" begitulah Allah mengingatkan kita pada Q.S. Ar-rahman (Maha Pengasih). Bahkan sebanyak itu Tuhan menyindir untuk mengingatkan kita, tapi bahkan tak sekalipun kita berfikir tentang nikmat. Pantas, jika kita disebut dengan manusia yang gak PEKA!.

Kisah :
"Lelaki gusam dengan dunianya, berharap tuhan memberikan jalan untuk mimpinya, ah jangankan mimpinya! segala bentuk kebutuhanpun Tuhan berikan dalam bentuk Beasiswa, Nilai, rizki dan segala yang ia pinta. Sebagai lelaki pengobral nadzar kepada Tuhan, setiap pintanya terkabul akanlah dia menjalaninya, meski benar-benar dengan hati terpaksa (memang bejad). Bahkan ia bingung untuk menepati nadzar, mungkin yang ia anggap nadzar itu adalah ancaman untuk Tuhan.

Saat itu penyakit gilanya kumat, ia lupa janji, lupa diri, lupa nikmat, lupa syukur, dan mungkin ia amnesia sekejap mata. Entah itu dosa semacam pelacur atau dosa penebar fitnah, aku tak bisa mengatakn itu disini, yang jelas saat itu ia hanya berfikir ia tak akan mati sekarang. kekejian itu lantas menjadikan uhan ingin memperingatkan, yah.... setelah lupa kematian, lantas ia menemui kecelakaan dahsyat, ah mungkin wajah akan tetap semula, tapi rizki, harga diri, kebohongan semua silih berganti bertukar tempat. Lantas, "nikmat tuhan yang manakah yang ia dustakan". mungkinkah saat itu ia tah tau ayat ini?? ah mungkin lupa. (dasar gak PEKA!)"

Tak sekedar alhamdulillahi robbil alamin untuk bersyukur, namun yang utama ditunjukan dengan perbuatan dan tingkah laku dari kita untuk Tuhan. Tuhanmu tak menuntut banyak saat Ia menurunkan nikmatnya, Allah hanya ingin kita bersyukur! toh seaandainya kita gelem berterimakasih nantinya nikmat itu akan ditambahkan. : 

(Sumber : Qur'an-terjemah.org)

Ada apa dengan dunia ini yang indah namun terlalu dibanggakan tanpa syukur?? sebegitu rendahkah IQ atau kemampuan otak kita untuk dapat mengingat syukur? pantaslah jika di pagi hari wajah terasa gusam dengan hati penuh kekhawatiran.

Ini untukku untuk kita semua, saat hati terancam keamanannya, saat dunia bukan milik kita, lihatlahlah diri kita. Terkadang masalah yang kita hadapi bukanlah sebuah cobaan/ujian dari Allah, melainkan itu adalah teguran atau kasarnya adzab. Ujian itu ada untuk kenaikan tingkat seseorang. bagaimana bisa, kita yang bahkan belajar atau sekedar hadirpun enggan, ataumungkin menghindar dari perintah-Nya, lantas pantutkah kita diberikan ujian??. Cobalah koreksi diri, perbaiki diri untuk menuju ridlo-Nya hendaklah selalu mengingat "fabiayyi alaa irobbkuma tukadzdziban". Dan carilah nikmat Tuhan yang telah kita dustakan, maka pebaikilah. "beribadah atasnama syukur, bukan atasnama keinginan akan sesuatu". :)

Terimakasi :) mohon koreksinya :)

Selasa, 13 Januari 2015

PEMUDA GUSAM

Disana menegak matahari jum'at
Wahai pemuda, wajahmu gusam
Bahkan sinar enggan menyorot wajah keji itu
Jadi, Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Jika dadamu sesak mendengar jeritan itu
Urungkanlah niatmu, lantas api itu mengobar dan menyala
keraskan jeritan yang kau suka! ini hidupmu
tapi, pertanggung jawabkanlah!

haruskah dengan tamparan tuhan?
jika itu maumu, aku hanya ingin berucap "amin"
Bahagiakanlah duniamu, dan jangan pernah mati!
Dan matilah! jika kau ingin menyesal.

Karya : Agung Subekti

Kamis, 25 Desember 2014

NGOPI BARENG MPI

Ngopi Bareng MPI
“Sembari Nunggu Umpan Dimakan Ikan”

Saat ku membuka mata di pagi hari, dimana kaki ini berdiri beralaskan cahaya mentari pagi, jelas tampak laut dan langit yang saling berhadapan saling memperlihatkan kilau biru yang tak bertepi. “Secangkir kopi kapal MPI”, hangat dan memberikan semangat ! Aromanaya merayap tak hanya pada penciuman, tapi menggenang di sudut hati ini. Kemana lagi kapal kita akan berlayar? Yang pasti semangat ini akan terus mengapi menyilaukan  kendala yang melintas.
Berawal dari tim yang kemudian menjadi rekan hati dan menguap menjadi keluarga dalam kebahagiaan. Benar kata Kapten Aldhila “Walau kita tidak sedarah, tidak sedaging. Tapi bukankah darah hanya sekedar golongan dan warna?”. Ada seribu sifat berbeda yang sulit menyatu, tapi ingatkah sebuah iklan yang mengatakan “Perbedaan itu seperti air dan minyak, walau tak bisa menyatu tapi bisa berdampingan.” Ini lah kami Keluarga MPI, nelayan pemimpi yang mencoba mengabdi.
Berlari dari segala pujian diatas, kisah ini akan aku mulai dari hari yang seakan semangat ini menantang terik mentari hari selasa di penghujung maret 2014 pukul 12.00 WIB. Ya.. hari itu adalah rapat perdana tim assisten baru pasca fotoku terpampang jelas pada mading depan Gd. C FPIK. Aku tahu akan ada perkenalan-perkenalan diri, hal yang paling aku benci tapi pasti ada diawal pertemuan. Bukan karena aku tak ingin mengenal lebih banyak teman atau orang untuk dikenal, tapi otak ini akan selalu pusing saat harus menghafal nama, itu lho Ridlo, itu Haris, Mbak Findri ato siapalah. Biarkanlah mata ini melihat wajah, lisan ini saling berbicara dan telinga saling mendengar, hingga suatu nanti otak ini mampu mengingat sebuah nama yang takan terlupakan. Tapi biarlah saat-saat menybalkan seperti itu berlalu, lantas nanti aku akan mengingat mereka dengan caraku sendiri. Yang jelas saat itulah keluarga baru dimulai.
arane nyong Agung Subekti, seka Tegal, PSP 2012” terpaksa ku keluarkan bahasa yang paling ku hafal, semua atas permintaan keluarga ini.
ha... ha....”  dan diiring tawa lepas yang mengelus dada.
Adakah rumpon diluar sana yang senyaman ini? Atau pancaran sinar patromak yang mampu menyinari dan menarik hati lebih dari ini?. Bukan tanpa sebab hati bertanya demikian, hanya saja terlihat dari hangatnya senyuman mereka, hati ini mulai merasakan adanya sebuah reaksi kimia. Berwibawakan kecerdasan, menjadi supel dengan candaan, serta disegani karena rendah hati. Benar, kami bukanlah orang yang pintar! Bahkan kita adakan belajar bareng sebelum memberi materi untuk praktikan. Ingatlah, disini bukan orang pintar yang dicari, melainkan orang yang “mau” (baca : meluangkan waktu, berbagi, mengayomi dan segalanya) begitulah seorang dosen berpendapat tentang asisten.
Berada pada divisi materi bersama Rizal Futaqi lelaki dengan otak encernya dan ketekunannya, mbak jihan seorang yang sebelumnya terlihat sangar tapi jauh dari hipotesisku, serta mbak Agnes gadis yang sempat menjadi pusat perhatianku bahkan sebelum bergabung di MPI “ssttt” tapi satu hal yang ku benci darinya yaitu “Dia Kakak Tingkat” karna aku tak main dengan tante-tante, so semua itu hilang dalam sekejap “he....he..”. :P. Dan dari ketiga insan ini hati memacu semangat untuk memberikan materi terbaik, buku panduan yang tak memberatkan, bahkan laporan yang tak sealay praktikum sebelah.
Tak perlu dengan timer jam pasir untuk menunggu adanya partikel yang bereaksi karna sentuhan. Sebelum amanah tahap awal memberat dipundak kiri, kita telah menjadi kesatuan dengan tangan yang siap menadah pasir, dan pundak yang akan terus bahu-membahu meringankan amanah itu. Hanya mengingat lidi dan mata rantai, kita tau arti dari bekerjasama tim, ringan karna ada selaksa genggaman erat yang menyatu, mengangkat dan menguat.

------:: Srupuuttttt dulu kopinya bang!! biar tak tegang ::------

            Bahkan suara aneh penjual tempe depan kontrakan yang menggelegar meraung memecah pagi belum aku dengar kala itu. Jam dinding berdetak menunjuk pukul 05.35, ku tarik sepeda pedal ku dan melaju menerobos dingin udara Malang kala itu. Layaknya mirza berkuda yang akan menemui sahibannya, demikian aku melukiskan diriku seperti itu. Agak lebay si, tapi tetap saja sampai Lab. Penangkapan telat dua menit dari yang di jadwalkan. “Ah sial”  dalam hati berbisik, jelas akan berhukum mengoreksi soal pretest dan postest nantinya. Ah sudahlah..... inilah hidup yang menuntut kita untuk mengambil konsekuensi dari setiap langkah yang kita pilih.
            Dengan bermodalkan belajar memahami konsruksi bubu, hasil tangkapan bubu dan semua tentang portable traps aku berusaha memberi terapi dan transfer ilmu pada setiap jiwa yang hadir di depan mata. Bersama Ridlo yang akan membantuku menyampaikannya. Antusias praktikan dengan dibubuhi sedikit dari mereka yang pemalas adalah sumber dari aku bisa tetap kuat meski radang mengering merindukan air.
“Mbak mungkin kontruksi hatimu seperti bubu ya..” ujarku ke mbak Elit
“lho kenapa??” umpan balik dari mbak Elit
“Saat aku mulai masuk kehatimu, aku sulit untuk keluar darinya”  lanjutku
“aaa.... dilaa aku di gombali agung”.
Gill net selektif namun melukai insang, Longline selektif juga menyakiti hingga ke tenggorokan, tapi MPI itu Bubu saat aku masuk didalamnya susah rasanya dapat keluar benar-benar selektif namun bernilai jual tinggi dan yang jelas tak melukai.
            Ada selang waktu dzuhur untuk makan, solat dan istirahat sejenak, setelah mulut membusa menjelaskan alat tangkap. Tak hanya nasi tapi candaan, obrolan ringan, koreksi kinerja, semua masuk ke dalam tubuh untuk dicerna.
“gung.... ngomong bahasa tegal gung” celetuk kapten Aldhila
“iya gung ayo...” mbak elit menambahi
“gung nyanyi doraemon versi Tegal gung...” Eis menjadi biang keladi ini
“ahhh isin aku” tagasku karna aku malu
“iya mbak pas di penanggungan dia nyanyi... ngakak banget” eis menambahi
Dengan berbagai pertimbangan dan paksaan, lisan ini menada dengan suara aneh yang ku miliki.
“nyong pengin kaya kiye, nyong pengin kaya kae
Pengin kiye, pengin kae, akehhe nemen.
Kabeh kabeh kabeh, bisa di kabulna, bisa dikabulna nganggo goni ajaib.
Enyong pengin mabur duwur neng langiit.
Wehh... kitiran pring... !
La la la, enyong demene por garoo doraemon”.
 (ciee yang bacanya sambil nyanyi)
Malu merasuk, dan tawa mereka terekam jelas pada gendang telinga. Seharian bersama orang yang dibesarkan dengan amanah dihari itu meyakinkan kembali inilah keluarga lain yang tumbuh dari obrolan seputar laut, kapal, alat tangkap, dan segalanya.

------:: Kopinya nambah dong bang, abis nih ::------

            Esok ada kuliah tamu sebagai praktikum MIP, mata kuliah pilihan yang aku ambil untuk memenuhi SKS, tapi malam ini armada MPI akan berangkat menuju Prigi untuk mencapai misinya. Aku, Citra, Eko, Shafa telah sepakat meninggalkan MIP untuk MPI, dalam bayangan ini kuliah tamu akan sangat membosankan berbeda dengan praktikum yang lebih banyak ilmu dan berbagi ilmu. Dan Burhany Resmana berperan hebat disini, dia yang mau TA untukku “hahaha”. Khawatir tentu ada dan terus mengusik, ini awal praktikum lapang, dengan PSP 2012 yang hampir semua ngambil MIP dan AP 2012 yang ketiganya tak bisa ikut karena praktikum pula, bagaimana bisa 2012 yang harusnya berperan aktif namun harus meninggalkanya. Dari sana pertimbanganku meluap dari nekad menjadi tekad yang kuat.
            Berangkat dengan doa dan jargaon “Tangkap Tangkap Sukses” malam ini menggunakan bus Tiara Mas yang siap membelah jalanan Malang – Trenggalek. Dengan lirih lagu Padi yang menenggelamkan aku dalam lelap malam itu. Adakah kupu-kupu kertas malam itu? Dalam mimpi sekalipun aku tak melihatnya, hanya hiasan temaram seakan mata ini berada pada satu fokus dan sulit berpaling. Ada hal yang harus ku jalani selain MPI, tapi fokus ini rupanya menuju hal yang selalu menarik hati. Jadi apakah MPI menarik hati?
            Udara pagi prigi yang hangat menjadikan rindu ini pada hangatnya kampungku di pagi hari. Saat-saat seperti itulah aku akan teringat orang tua, dengan mencuri waktu sholat subuh, kusempatkan mendengar suara halus ibu walau hanya waktu yang sesaat. Kemudian segarnya air wudlu mengalir membersihkan hina tubuh ini. Sujud akhir rakaat yang selalu ku perpanjang dengan doa, membawa aku seakan ada didekat pemilik kemahaan kuasa. Langkahku ini atas kehendakNya, biarkan aku bersyukur atas segala rahmat yang telah Tuhan berikan untukku dan untuk kita.
            Di PPN Prigi – trip ini sebenarnya bukan praktikum untuk praktikan saja tapi assisten saat itu belajar banyak akan kondisi nelayan yang sebenarnya. Saat diatas kapalpun aku menyimak baik pengoperasian alat tangkap, maklum ditahunku praktikum MPI sedikit menyimpang dari materi. Analisa ekonomi nelayan yang memiliki pendapatan tinggi tapi mengapa mereka kurang sejahtera?? Jika melihat hamparan luas laut dihiasi tebing dan mentari yang gagah, kesimpulanya adalah kurangnya bersyukur atas sang maha pencipta yang demikian (tausiyah?). inilah pelajaran real yang seharusnya kuliah tak hanya teori yang jauh dari kenyataan. Nelanyan tangguh, alat tangkap yang kuat, ikan yang tabah, biru laut yang abadi, karang yang tegar dan ombak yang menggebu akan selalu menegur kita untuk lebih baik lagi.
            Dan pejalanan pulang ini terasa hangat bersama mas Andi, mbak Dhila dan mbak Elit dan sejumlah praktikan yang ikut menggelengkan kepala melihat tingkah kita. Lucu? Mungkin! Garing? Bisa dikatakan demikian.
gung pilih ndi? Cewek nakal, sexi tapi ayu?? Opo elek tapi alim poll?” pertanyaan konyol dari mbak dhila.
“haha yang sexi lah mbak!, nanti biar aku yang menuntun ke jalan yang benar” ahaha sok bisa.
“haha”  garing kan? Tapi lho lucu.
Dan bahkan, sopir bis ikut menertawakan setiap candaan kita. Sore itu akan selalu teringat dan selalu ingin terulang.

        Seperti berjalan diatas kilauan rel kapal.
Tuhan....  jika ada 1 armada untuku, akan kuberi yang sederhana tapi mengena.  Menyeimbangkan setiap langkahku dan menggenggemnya erat, berhiaskan mentari senja di ujung alur kapal.
Seperti berjalan didekat pembatas jalan sebelum dermaga.
Tuhan.... aku harap hanya keluarga MPI ini, duduk berdampingan pada pagar pembatas jalan. Menatap gemilang senja dan tersenyum dipersimpangan menuju gelap, bersama.
------:: Cium aroma kopinya, dan rasakan Nikmatnya ::------

            Dan rapat lagi dan UAP dan makan-makan di SS lantas mampir di alun-aalun batu. Selalu waktu kita bergulir bersama, memberikan rona baru pada kehidupanku dan bahkan untuk MPI itu sendiri. Ide-ide baru sekitar praktikum, laporan, UAP semua kita gali bersama diatas kapal MPI ini. Masalah financial yang tak rata, bukan masalah bagi kita! Tapi kebersamaan yang terbagi sama rata, sama melimpahnya, itu yang menjadikan kapal ini terus kokoh dan siap melaju mencari pulau selanjutnya.
            Kado-kado itu mulai bertumpuk memenuhi pandangan mata di atas meja makan Super Sambel. Begitu pula dengan kadoku yang telah terbungkus cantik membentuk baju “Siapa yang dapet ya??”. Memang isinya tak seberapa, tapi pastilah ada kata-kata indah dibalik semuanya. Dan siapapun yang memberiku sepasang kaos kaki, itulah yang masih aku jaga sampai kini bersama juga hantaman-hantaman manis dari sebuah senyuman malam itu. Angin kota batu itu benar-benar menampar seluruh tubuh tanpa tameng manggala yuda merambat dan menghantarkanku untuk kembali, kembali menjalani hidup, kembali berbagi tawa bersama sahabat MPI, dan kembali disaat mereka akan pergi.
            Jalan panjang menuju langit biru, dan akulah penemu harta karun dalam opening song anime Chibi Maruko Chan, alangkah senang dan hati gembira. Tanpa aku sebutkan apa isi harta karun itu, seharusnya anda tau tentang hal itu, hal yang menyenangkan hati yang begitu banyak, bahkan saat kita bermimpi mengarungi samudra penuh imajinasi. Dan kini saatnya ganti “Baju MPI” kawan! agar terlihat menarik hati, dan ayo mencari anggota keluarga baru. Wangi angin hamparan laut di sore hari, sampaikanlah salam gembira pada mereka yang gelem melaju bersama kita.

------:: Jeng jeng jeng jeng jrreng.... ahh “Kopi kapal MPI” ::------

            Intrusksi nahkoda itu adalah standart keselamatan kapal. Perintah-perintah itu akan selalu dianggap sebagai perintah yang benar, karenanya koreksi sebuah intruksi itu menjadi hal yang vital untuk seorang kapten kapal. Kapten cerdas, kapten tegas itulah yang dibutuhkan kapal MPI, dan kapten Aldhila salah satunya. Intruksi kapten selanjutnya adalah OR anggota baru untuk kapal ini, itu tanda akan ada kesegaran baru in this crowd , tapi ini juga akan berimbas dengan kakak yang kemudian akan meninggalkan keluarga ini. Terkadang perpisahan itu menyakitkan, tapi aku tak pernaah menyesali sebuah pertemuan untuk senandung yang kita nyanyikan bersama, untuk teriakan yang kita lontarkan, untuk kekuatan yang kita genggam bersama.
            Berapa yang minat untuk bergabung dengan kita? “ratusan”. Semenarik itu kah keluarga ini? Sehingga dihari sabtu itu empat kelas di Gd. C dipenuhi calon anggota baru untuk tes tulis. Langkah ini hanya sebagai syarat bahwa asisten MPI tidak buta masalah materi. Langkah esok sebenarnya yang terpenting, tak sekedar materi melainkan ketangguhan, kecerdasan, kemauan, dan komitmen yang menjadikan calon anggota kapal akan bisa bergabung bersama kita. 37 Mahasiswa dinyatakan layak mendapatkan kesempatan untuk wawancara esok hari pasca tes tulis berlangsung, segala konsep esok telah kami rancang, seperti bubu yang selektif kamipun begitu.
            “macak disma” update statusku di Facebook kala itu, menggambarkan suasana wawancara MPI yang benar-benar mengajarkan ketangguhan, mengasah kecerdasan dalam kondisi sulit, komitmen yang kuat serta ada skill non akademik yang bisa menambah aroma rasa dan terlihat kece. Berpakaian hitam, jilbab merah bagi yang mengenakannya adalah salah satu strategi yang mendukung kerasnya perjuangan yang akan kita hadapi. Sedikit garang dan selalu meremehkan untuk mengasah kecerdasan dalam suasana panas serta menghadapi praktikan yang akan memakan hati tanpa teh botol sosro. Dan dari sinilah sepuluh mahasiswa yang akan tumbuh bersama kami bisa terlahir.
            Meski kini, 10 anggota baru telah lahir dan siap menghembuskan nafas dengan aroma harum angin samudra, tapi 11 senior akan beralih mencari kapal mereka masing-masing. Dan kapten Aldhila Yulistianti di mala

m itu telah menyematkan lencananya kepada Kapten baru MPI “Kapten Zainullah Laksmana Susila”, adalah kami 25 pelaut baru dengan bahtera MPI yang akan berlayar penuh mimpi. Dan para veteran itu kini beralih dengan kapalnya masing-masing, tuk mengejar mimpi masing-masing. Berlayarlah kak, kapal ini akan berlayar pula seperti impianmu, dan suatu hari nanti kita jika kita bertemu ditengah samudra ataupun disebuah pulau, mampirlah walau hanya mengabiskan secangkir kopi hangat ini.
            Kapten Zain! Perintahkan kami angkat jangkar dan menggembangkan layar. Kemana lagi kapal ini kan berlayar? Yang jelas, semangat kami akan tetap menyilaukan segala hambatan ditengah samudra sana. Ada bahkan beribu hempasan ombak yang menghadang, tapi bukankah pelaut handal itu tidak terlahir dari laut yang tenang?. Sesekali kita akan tetap santai memandang badai dengan secangkir kopi beraromakan MPI, kopi hangat dan memberikan semangat. Kopi yang tak terlalu pahit, selalu cocok untuk malam dingin dan pagi yang sejuk. Kopi yang teracik sepenuh hati hingga aromanya yang terasa manis mampu memberikan sejuta warna untuk samudra dan dunia. “Kopi kapal Mpi, jelass lebih enakk!!”

NGOPI BARENG MPI